Seni dan Budaya dibungkus dalam event Festival Wong Gunung 2017

12 gadis pilihan pembawa banyu panguripan 
Festival Wong Gunung yang digelar diwilayah kaki Gunung Slamet kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang sukses digelar dan dihadiri  orang dari berbagai wilayah di kabupaten pemalang dan kabupaten tetangga seperti Tegal,pekalongan,Purbalingga dan dan kota tetangga dari wilayah Pemalang.

Acara yang kedua  kalinya digelar tanggal 21-22 November 2017 menampilkan berbagai macam kesenian yang ada di kecamatan Pulosari,Adapaun rangkaian acara yang pertama adalah ruwat air panguripan yang diambil di 7 mata airyakni yakni Sendang Gombong, Suyud, Sipendok, Jurug Kinang, Silangse, Cikunang Sences   yang berada di Gunung Slamet dan setelah di ruwat dibawa olaeh 12 wanita cantik pilihan yang nantinya air tersebut akan diserahkan kepada 12 kepala desa yang ada di kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang.
orang " pilihan yang membawa banyu panguripan 
ketujuh orang yang diberi tugas untuk mengambil air di tujuh sendang panguripan itu adalah orang- orang pilihan.
Sudah teruji secara lahir, batin dan fisik serta mempunyai pengalaman untuk melakukan perjalanan mengambil banyu panguripan di tujuh sumber mata air itu.Mereka juga harus tetap menjaga etika selama di perjalanan, agar selamat sampai tujuan.


“Air tersebut kemudian dibawa turun dan disatukan dalam satu wadah. Selanjutnya, dituangkan ke dalam 12 wadah yang terbuat dari bambu Lalu, dilakukan ruwat banyu panguripan melalui doa- doa.

Ruwat banyu panguripan sebagi wujud permohonan masyarakat Pulosari yang setiap musim kemarau mengalami kekeringan.

video by Judi Cruise 


Mereka memohon kepada Allah SWT agar warga Pulosari tidak lagi dilanda bencana kekeringan.


Baru pada Rabu pagi, banyu panguripan dalam 12 wadah diarak saat pawai menuju lapangan kecamatan setempat.Dalam pawai juga ditampilkan gunungan hasil bumi dan seni budaya masing- masing desa. sebelum kirab dimulai dimulai berdoa bersama di Tugu juang Pulosari dengan memecah sebuah tempat air oleh 3 orang perangkat desa.


Puncaknya air panguripan di dalam 12 bumbung bambu yang disebut  (Lodong)  yang diberikan kepai  akan diserahkan kepada 12 Kepala desa yang semuanya menggunakan pakaian adat jawa.



Sebelum penyerahan air suci Panguripan digelar pawai seni dan kirab budaya yang merupakan ciri khas dari kecamatan Pulosar1,diikuti oleh yang pertama barisan para orang pilihan yang mengambil air penguripan dilanjut dengan 12 Gadis gadis  cantik pembawa air panguripan, pembawa gunungan raksasa yang berisikan sayur mayur dan hasil bumi seperti kentang,kol,cabe, terong dan lainnya yang menandakan daerah pulosari adalah daerah yang subur dan makmur untuk hasil sayur mayurnya dan dilanjutkan dari perwakilan dari desa desa yang ada di Kecamatan Pulosari.

Kirab Ageng Banyu Panguripan 

Sepanjang perjalanan masyarakat yang antusias dengan diadakannya FWG yang ke dua  menanti di sepanjang jalan kecamatan guna melihat dari dekat iring-iringan pawai tersebut.,walaupun jalan kecamatan yang sempit pawai dan kirab tersebut berjalan lancar dan aman.

Kirab dan pawai yang berjalan kurang lebih 3 km berakhir di pusat kegiatan FWG 2017  yaitu lapangan Pulosari.

Setelah pawai dan kirab selesai acara dilanjutkan sesuai rundown yang itu pertujukan kesenian daerah seperti  Calung, kuda lumping silakupang,sintren dll acara ditutup dengan penyerahan dsan pembagian air panguripan kepada 12 kepala desa di kecamatan Pulosari.



video by Judi Cruise 

Tujuan dari FWG juga diharapkan jadi ajang untuk mempromosikan kecamatan Pulosari yang kaya akan keiindahan alamnya,FWG ini merupakan kebanggaan warga pulosari ungkap Ketua Panitia  saat wawancarai Penulis setelah usai acara tersebut .

Pak Tyo sapaan akrabnya  menjelaskan FWG untuk menumbuhkan potensi dalam menyongsong program kecamatan wisata serta ajang promosi potensi alam kuliner  dan budaya,karena acara FWG ini diisi bergai pertunjukan seni dan budaya unggulan kec.Pulosari seperti pencak silat asli dari Gunungsari  dan kuda lumping silakupang, Bungpak dll  ungkapnya"


Siang itu acara selesai berlangsung sampai sekitar jam 2 siang dan pada malam harinya akan dilakukan pentas kesenian yang akan dilakukan oleh perwakilan dari 12 desa yang ada di kecamatan Pulosari , nampak malam hari sekitar pukul 7.30 wib masyarakat sudah sangat antusias yang akan menyaksikan berbagai pertunjukan tersebut , penulis pun ikut dalam gelaran terbesar di tiap tahunnya oleh Warga Pulosari .


Pertunjukan yang menurut penulis paling banyak menghibur masyarakat adalah kesenian Ebeg ( jarang kepang ) yang melakukan Jantur massal , bukan Cuma para pemainnya saja yang kesurupan tetapi banyak dari penonton yang ikut kesurupan dengan ikut berjoget dan menari sesuai irama yang di mainkan oleh pemain gamelan ebeg tersebut , acara pentas selesai jam 12 malam dengan penutup kesenian ebeg dari desa Pulosari .

Ia berharap, melalui Festival Wong Gunung itu, doa masyarakat Pulosari, yakni terhindar dari bencana kekeringan, dan dia sangat berterima kasih kepada para netizen terutama kepada admin” Desa /  penggiat sosial Media  yang meramaikan kegiatan Festival Wong Gunung dengan tagar #fwg2017 bisa menjadi trending topik pada malam itu , suatu kebanggaan kegiatan di desa bisa ter ekspose keluar berkat literasi digital saat ini ucapnya “ (Kik )




Post a Comment

Previous Post Next Post

Featured post