THE UNTOLD STORIES: SISI GELAP SOSIAL MEDIA DAN TRAVELLER UNTUK SPOT PETUALANGAN

Sosial media benar-benar berpengaruh terhadap perkembangan petualangan. Ada yang memberikan pengaruh positif, namun ada juga yang menjadi bumerang negatif untuk spot petualangan tersebut. Selengkapnya di bahasan ini gaes !


Percaya atau tidak, setiap hal pasti punya sisi yang selalu terlihat dan ada sisi yang tidak terlihat. Hal tersebut berlaku juga untuk petualangan, perjalanan dan traveling. Selama ini, khususnya di Indonesia – hal yang selalu terlihat adalah sisi terang dari sebuah petualangan.

Sisi terang yang dimaksud adalah bagaimana sebuah perjuangan seorang petualang untuk menaklukan puncak gunung tertinggi, menjinakan ombak lautan yang ganas, atau bahkan menjadikan hutan belantara sebagai taman bermainnya.

Sisi terang yang lain juga adalah bagaimana mereka, para petualang – menangkap segala momen seru mereka bersama keindahan alam yang ada di sana dengan sangat baik. Kebaikan tersebut bahkan dengan mudah mendapatkan banyak respon dari petualang lain lewat sosial media.

Sosial media, tentu hal ini menjadi jembatan saat para petualang bereksplorasi ke tempat-tempat yang keindahan alamnya masih tersembunyi dengan baik. Lalu, mereka suguhkan keindahan alam tersebut kepada khalayak banyak lewat berbagai bentuk sosial media: Facebook, Twitter, dan Instagram.

Dari beberapa bentuk sosial media yang sudah disebutkan sebelumnya, kondisi spot petualangan yang disuguhkan oleh para petualang di akun-akun mereka terlihat sangat indah. Hal tersebut tentu dipengaruhi oleh hal-hal magis yang sosial media bisa lakukan.

Namun, entah ada petualang yang peka terhadap hal ini atau tidak – semakin terekspos spot petualangan yang ada, semakin penasaran yang menggebu-gebu untuk didatangi oleh khalayak banyak. Hal ini bisa mengakibatkan sisi gelap dari petualangan. Sebuah sisi yang hampir tidak pernah terlihat oleh mereka semua.

Geotagging: Salah Satu Bumerang?

Kondisi tersebut juga diyakini benar oleh Christophe Haubursin, sebagaimana tulisannya dan videonya di vox – yang menyatakan bagaimana keindahan alam yang direkam di sosial media malah bisa merusak alam tersebut.

Di videonya, Chris setidaknya menjelaskan bagaimana perubahan yang terjadi di salah satu sisi Sungai Colorado, Arizona. Perubahan pesat tersebut ia mulai bandingkan kondisi spot petualangan tersebut pada tahun 1992 dan sampai sekarang.

Tadinya, spot tersebut tidak dikenal banyak orang. Sekarang, sudah banyak mobil dan motor yang parkir di area tersebut. Hal ini terjadi karena ada fitur geotagging di beberapa sosial media. Fitur ini memudahkan para pencari spot petualangan karena bentuknya yang seperti peta petunjuk.

Fitur ini memang memudahkan, sayangnya cukup jadi bumerang bagi spot petualangan itu sendiri. Bumerang tersebut juga harus diterima oleh pihak pengelola Kebun Bunga Amarylis. Bunga Amarylis, di bahasa setempat, bernama Brambang Procot.

Ingat Kebun Bunga Amarylis di Gunungkidul Yogyakarta?
Sisi Gelap Sosial Media dan Traveller Untuk Spot Petualangan. credit photo: merdeka.com
Sukadi, pemilik kebun bunga tersebut yang berlokasi di Dusun Ngasemayu, Desa Salam, Kecamatan Patuk – Gunungkidul Yogyakarta, harus gigit jari melihat Bunga Amarylis di kebunnya rusak karena ulah beberapa orang yang berjuang untuk mendapatkan foto cantik untuk feed sosial media dan dipamerkan ke khalayak banyak.

Banyaknya pameran swafoto atau foto lanskap dari Kebun Bunga Amarylis ini di sosial media membuat banyak orang juga penasaran dengan keindahan aslinya. Alhasil, berbondong-bondong orang dari berbagai daerah datang ke sana
 
 credit photo: loop.co.id
Bukan saja mengagumi keindahan deretan Bunga Amarylis, namun mereka meninggalkan jejak juga di sana. Ya, tumpukan bunga yang patah dari tangkainya dan gepeng karena terinjak-injak banyak orang yang berusaha ber-swafoto di sana. Miris.

Mengapa ini bisa terjadi? Singkatnya, keindahan alam terekspos di sosial media, banyak yang penasaran, datang, dan merusak. Maaf bro, tapi ini fakta.

Tidak hanya Kebun Bunga Amarylis yang notabennya dengan mudah untuk ditemukan banyak orang. Spot petualangan sekelas Ranu Kumbolo saja bisa berantakan karena sampah yang sengaja ditinggalkan di sana.

Sekelas Ranu Kumbolo, Danau Segara Anak dan Pulau Sempu
Mesti Berhiaskan Tumpukan Sampah Juga?

credit photo: male.co.id
Apakah para petualang benar-benar sengaja meninggalkan jejak berupa tumpukan sampah di tiga spot petualangan yang kelasnya sudah bintang lima? Tidak ada yang tahu secara presisi jawabannya kecuali petualang itu sendiri.

Sayang sekali, Ranu Kumbolo di Semeru, Danau Segara Anak di Kerinci, dan Pulau Sempu mesti sempat berhiaskan tumpukan sampah sebagai jejak mereka yang pernah datang ke sana. Keindahan alam yang ada mestinya dijaga, bukan malah dihias oleh tumpukan sampah.

credit photo: diatasawan.com
Bicara soal sampah, para petualang sepertinya harus berkaca bagaimana jika rumah atau setidaknya kamar tempat ia beristirahat jika dihiasi dengan tumpukan sampah akan terasa seperti apa. Kurang lebih refleksi seperti itu yang perlu mereka ketahui persis.

Kurang sadarkah para petualang dan pendaki terhadap spot petualangan yang eksotis?
Tidak hanya spot petualangan yang tergolong pegunungan, Gili Trawangan, Pantai Kuta, bahkan sampai Pulau Derawan – sempat kehilangan keindahannya karena tumpukan sampah. Bro, jika terus begini maka ekosistem alam akan rusak sehingga keindahan alam yang ada akan hanya jadi wallpaper kenang-kenangan di gadget yang lo punya.

Raja Ampat Sempat Berduka

credit photo: travel.detik.com
Lo semua tahu Raja Ampat adalah spot petualangan yang bagaimana? BETUL. Raja Ampat adalah spot petualangan kelas dunia yang mempunyai keindahan alam bawah laut yang luar biasa. Sayang, beberapa waktu lalu Raja Ampat sempat berduka.

credit photo: tribunnews.com
Datangnya Kapal Pesiar MV Caledonian Sky beberapa waktu lalu ternyata membawa petaka bagi terumbu karang dan ekosistem laut Raja Ampat. Terlalu minggir dan dekat dengan kawasan konservasi terumbu karang, kapal pesiar sombong itu menabrak dan merusak segala yang ada.

Perlu lo ketahui bro, rehabilitasi karang tidak semudah dan secepat yang dikoar-koarkan oleh mereka yang merasa sok bertanggung jawab. Butuh bertahun-tahun untuk terumbu karang dan berbagai ekosistemnya untuk kembali lagi seperti semula.

Terbaru, Seekor Paus Sperma di Wakatobi –
Mati Membusuk, Begitu Diteliti Ada 5,9 Kilogram
Plastik di Dalam Perutnya.

credit photo: mongabay.com
Kalau sudah begitu, siapa yang mau tanggung jawab? Sampah plastik kira-kira datang dari siapa bro? Betul, dari orang-orang yang hanya tahu keindahan alam dari sosial media tanpa tahu bagaimana menjaganya bagaimana.

We must end this irony. Indonesia adalah negara dengan jutaan spot petualangan yang berkelas tinggi bro. Kalau bukan lo sebagai petualang sejati yang menjaganya langsung, lalu mau bergantung dengan siapa?

Oleh karena itu, pastikan jika ingin mengekspos keindahan alam di spot petualangan tertentu, pastikan lo juga menghimbau mereka untuk menjaga destinasi tersebut agar terus bisa dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya.

Mengabarkan keindahan alam adalah hal yang baik. Namun, jangan sampai kabar baik tersebut berubah menjadi bumerang dan malah jadi kabar buruk – karena spot petualangannya rusak dan hancur oleh kunjungan yang masif.


Feature Image - asliindonesia.net


Post a Comment

Previous Post Next Post

Featured post